Search This Blog

Sunday, August 31, 2014

REC 4: Apocalypse Rilis Trailer Final Serangan Zombie Ganas

REC 4: Apocalypse Rilis Trailer Final Serangan Zombie Ganas


[caption id="attachment_216" align="alignnone" width="640"]rec-4-apocalypse_poster-423x600-640x400 REC 4: Apocalypse Rilis Trailer Final Serangan Zombie Ganas[/caption]

Trailer final yang berdurasi hampir 2 menit ini menampilkan suasana mencekam saat sang tokoh utama, jurnalis wanita bernama Angela Vidal, yang sekali lagi harus berjuang mati-matian melawan orang-orang yang telah terinveksi virus mematikan dan berubah menjadi zombie ganas!

Angela dibawa ke sebuah pusat penelitian yang dijaga ketat oleh team SWAT. Disana ia diteliti oleh sekelompok Ilmuan yang mencoba mengungkap mengapa Angela Vidal mampu selamat dari serangan zombie di sebuah apartemen (di dua film pertamanya).

Tanpa Angela sadari, rupanya virus tersebut juga ternyata telah bersemayam dalam tubuhnya. Di saat yang sama, teror para zombie mulai kembali menyerang, dan Angela menjadi satu-satunya harapan untuk bisa melawan mereka semua.

[REC] 4: Apocalypse digarap oleh salah satu dari duo Sutradara film pertamanya Jaume Balaguero.

Selain Manuela Velasco yang kembali memerankan reporter Angela Vidal, filmnya juga turut menampilkan Hector Colome, Maria Alfonsa Rosso, Emilio Buale, Paco Manzanedo, Crispulo Cabezas, Ismael Fritschi, Paco Obregon dan Mariano Venancio.

REC 4 akan tayang perdana di Toronto International Film Festival pada tanggal 9 September 2014 dan tayang secara luas di bioskop Spanyol mulai 31 Oktober 2014.

Seperti 3 film sebelumnya, REC 4 juga akan tayang di bioskop Indonesia melalui jaringan bioskop Blitzmegaplex.

Trailer final terbarunya yang menegangkan bisa langsung Anda saksikan dibawah ini :

[embedplusvideo height="300" width="700" editlink="http://bit.ly/1pi7HKT" standard="http://www.youtube.com/v/nbMillKxC5s?fs=1" vars="ytid=nbMillKxC5s&width=700&height=300&start=&stop=&rs=w&hd=0&autoplay=0&react=1&chapters=&notes=" id="ep3080" /] Film keempat dari franchise horror bergaya found-footage ‘Rec 4: Apocalypse‘ baru saja meluncurkan trailer final-nya.

rec-4-apocalypse_poster-423x600

'Guardians of the Galaxy' Raih 2 Kemenangan di Box Office Minggu Ini

'Guardians of the Galaxy' Raih 2 Kemenangan di Box Office Minggu Ini

[caption id="attachment_199" align="alignnone" width="620"]guardians-galaxy-movie-preview Guardians of the Galaxy[/caption]

'Guardians of the Galaxy' menduduki peringkat 1 box office dan menjadi film dengan keuntungan tertinggi tahun ini.

"Guardians of the Galaxy" masih jadi yang terfavorit minggu ini. Film yang dibintangi Chris Pratt itu berhasil mempertahankan posisinya di peringkat 1 Box Office dan menjadi film dengan keuntungan tertinggi tahun ini. Akhir minggu kemarin "Guardians of the Galaxy" berhasil meraup keuntungan USD 16 juta (Rp 189 miliar).

"Guardians of the Galaxy" berhasil mendapatkan total USD 274,6 juta (Rp 3,1 triliun) sejak masuk Box Office. Biaya produksi film ini sendiri menghabiskan USD 170 juta (Rp 1,9 triliun). Jumlah keuntungan "Guardians of the Galaxy" tersebut menggeser "Captain America: The Winter Soldier" yang 'hanya' mendapatkan USD 258,7 juta (Rp 3 triliun).

"Teenage Mutant Ninja Turtles" berada di posisi ke-2 dengan meraih total keuntungan USD 162,4 juta (Rp 1,8 triliun) dan USD 11,7 juta (Rp 135 miliar) akhir minggu lalu. Jumlah itu mengungguli film Warner Bros "If I Stay" yang menduduki peringkat ke-3 setelah mendapatkan keuntungan USD 9,2 juta (Rp 106 miliar).

"As Above, So Below" tampil sesuai harapan dengan menembus angka USD 8,3 juta (Rp 96 miliar) di minggu pertama yang menempatkannya di peringkat ke-4. Film "Let's Be Cops" berada di posisi 5 setelah meraih USD 8,2 juta (Rp 95 miliar) di minggu ke-3 sejak perilisannya.

Friday, August 29, 2014

Akhirnya 'DOCTOR STRANGE' Memiliki Pemeran Utama?

Akhirnya 'DOCTOR STRANGE' Memiliki Pemeran Utama?




Dalam San Diego Comic Con lalu Marvel bertahan untuk tidak mengumumkan apapun selain film yang saat ini tayang GUARDIANS OF THE GALAXY, mereka hanya menambahkan 6 jadwal tayang film tanpa judul. Mungkin hal ini terlihat aneh bagi sebagian orang, mempertanyakan mengapa produsen superhero tersebut tidak mempromosikan di ajang sebesar itu. Tapi akan terlihat wajar jika dibandingkan dengan dua studio lain, Twentieth Century Fox dan Warner Bros juga bungkam terhadap project terbaru mereka.
Aksi tutup mulut itu berimbas kepada para penggemar yang ditinggalkan tanpa informasi dan makin rancunya informasi kabar dan berita tersebar. Satu hal pasti adalah Scott Derrickson akan menjadi sutradara film dan Jon Spaihts akan menjadi penulis ceritanya. Walau masih spekulasi, akan tetapi Marvel masih punya jadwal kosong untuk kisah pahlawan baru pada Juli 2016, diperkirakan pada saat itulah Dr. Strange akan hadir, mengingat proses produksinya akan dimulai awal tahun depan.

Sebelumnya diberitakan, bahwa Joaquin Phoenix sedang dalam pembicaraan dengan Marvel untuk berperan sebagai Dr. Strange. Akan tetapi sejak saat itu tidak ada kabar lanjutan dari kedua belah pihak. Sejak saat itu, berbagai nama muncul, seperti Benedict Cumberbatch, Tom Hardy serta Jared Leto dan yang paling anyar adalah Jack Huston.

Akan tetapi nama-nama yang disebut terakhir tidak memiliki kesempatan besar sebesar nama mereka, justru Joaquin Phoenix -lah kandidat terdepan untuk memerankan Dr. Strange. Menurut sumber dari Collider, sang aktor nominator Oscar ini sedang dalam tahap negosiasi akhir dengan Marvel. Nama besar untuk karakter spesial, jika kamu penggemar komik, pasti sungguh sangat menyadari bahwa yang akan menjadi Doctor Strange haruslah aktor hebat.

Sejak kedatangan Samuel L. Jackson (Nick Fury) dengan kontrak 9 judul film, Mulai dari saat itu panjangnya kontrak dari masing-masing bintang berbeda. Chris Evans dan Robert Downey Jr 'hanya' mendapat 6 project dari Marvel. Walau sudah dekat, tapi jika belum ada kepastian resmi, maka bisa saja batal.

Ada 2 spekulasi yang berkembang saat ini berkaitan dengan perihal kontrak. Teori pertama mengatakan bahwa kedua pihak terhalang oleh kesepakatan materi atau nilai gaji dari sang aktor. Sedangkan lainnya berpendapat, Joaquin Phoenix ingin memastikan terlebih dahulu klausul kontrak agar ia masih bisa berperan dalam project di luar Marvel.

Mari kita berharap hasil terbaik yang akan muncul, sambil menunggu kepastian, kamu bisa melihat akting Joaquin Phoenix saat jatuh cinta pada Scarlett Johansson di film HER dalam trailer di bawah ini.

[embedplusvideo height="300" width="700" editlink="http://bit.ly/1tiJGLd" standard="http://www.youtube.com/v/ne6p6MfLBxc?fs=1" vars="ytid=ne6p6MfLBxc&width=700&height=300&start=&stop=&rs=w&hd=0&autoplay=0&react=1&chapters=&notes=" id="ep4107" /]

Video By: Warner Bros. Pictures

Ada Kabar Gembira Dari Film 'STAR WARS EPISODE VII', Apa Itu?

Ada Kabar Gembira Dari Film 'STAR WARS EPISODE VII', Apa Itu?


 

Ini kabar yang paling ditunggu-tunggu oleh para penggemar science-fiction di luar sana. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya mereka akan beraksi kembali. Ok, mungkin sudah termasuk cukup lama, tapi toh sekaligus juga menunggu penyembuhan.
Ya, STAR WARS EPISODE VII akan kembali menjalani proses syuting. Setelah mengalami hiatus karena cederanya Harrison Ford pada saat pengambilan gambar sebelumnya, kini setelah sakit di kaki aktor pemeran Indiana Jones tersebut hilang, mereka siap melanjutkan project yang tertunda.

Produksi sempat terhenti selama dua minggu, awal bulan ini untuk menunggu Ford sembuh. Saat ini sang sutradara JJ Abrams memilih untuk melakukan proses syuting di Pinewood Studios di Inggris. Para aktor dan aktris telah bersiap untuk kembali mengambil gambar untuk seri ketujuh perang bintang ini.

Penghentian proses syuting kemarin tidak mengganggu jadwal rilis film resmi yang sudah ditetapkan. STAR WARS EPISODE VII akan tetap direncanakan tayang pada tanggal 18 Desember 2015 di Amerika Serikat dan Inggris. Karena sebenarnya mereka tetap menjalani proses syuting tanpa Ford sambil menunggu pemeran Han Solo tersebut sembuh.

STAR WARS EPISODE VII akan menampilkan bintang dari trilogi pertamanya yaitu, Harrison Ford, Carrie Fisher, Mark Hamill, Anthony Daniels, Kenny Baker dan Peter Mayhew akan kembali bermain sebagai peran mereka sebalumnya. Beberapa nama baru yang bergabung di antaranya, Adam Driver, Oscar Isaac, Andy Serkis, Domhnall Gleeson, John Boyega, Max von Sydow dan Daisy Ridley.

Sekuel ketujuh ini akan diikuti oleh sebuah cerita lanjutan yang hingga saat ini masih dirahasiakan, tapi, telah diketahui bahwa film tersebut rencananya akan disutradarai oleh Rian Johnson.

Monday, August 25, 2014

The Ring 3D Akan Ditulis Skenarionya Oleh Penulis ‘The Da Vinci Code’

The Ring 3D Akan Ditulis Skenarionya Oleh Penulis ‘The Da Vinci Code’


 

[caption id="" align="alignnone" width="564"] The Ring 3D Akan Ditulis Skenarionya Oleh Penulis ‘The Da Vinci Code’[/caption]

Hantu berambut panjang Sadako telah siap kembali lagi merangkak keluar dari layar televisi-nya dalam film terbaru ‘The Ring 3D‘.


Walaupun di jepang telah hadir versi film layar lebar ‘Sadako 3D‘, sineas Hollywood tetap akan membuat versi berbahasa Inggrsnya sendiri yang merupakan kelanjutan dari film remake The Ring (2002) dan The Ring Two (2005) yang digarap langsung oleh sang sutradara versi Jepang, Hideo Nakata.


Tak main-main, untuk film keriga ‘The Ring’ kelak, pihak rumah produksi telah merekrut penulis naskah peraih piala Oscar, Akiva Goldsman.


Goldsman sendiri sebelumnya memang belum pernah menulis skenario film horor. Namun Ia sudah menjadi jaminan untuk skenario film-film laris seperti The Da Vinci Code, Angels & Demons, I Robot, I Am Legend, serta film yang membuahkan piala Oscar untuknya ‘A Beautiful Mind‘


The Ring 3D akan digarap oleh Sutradara asal Spanyol, F. Javier Gutierrez (Before The Fall).


Filmnya masih akan melanjutkan kisah hantu wanita bernama ‘Samara’ (versi Amerika dari ‘Sadako‘) yang kembali muncul di video tape dan meneror siapapun yang menonton video yang dipenuhi kutukan tersebut.


Belum diketahui pula apakah pemeran utama dari dua film sebelumnya yakni Naomi Watts juga akan kembali melanjutkan perannya di installment ketiga ‘The Ring‘ ini.


Yang jelas, The Ring 3D kemungkinan baru akan siap ditayangkan pada tahun depan.

Sunday, August 24, 2014

Spin-Off Harry Potter ‘Fantastic Beasts and Where To Find Them’

David Yates Siap Garap Film Spin-Off Harry Potter ‘Fantastic Beasts and Where To Find Them’

[caption id="" align="alignnone" width="640"] Spin-Off Harry Potter ‘Fantastic Beasts and Where To Find Them’[/caption]

Sutradara David Yates rupanya masih belum bosan bergelut dalam dunia sihir ‘Harry Potter’.


Setelah menggarap film kelima (Order of the Phoenix), keenam (Half Blood Price), dan ketujuh serta kedelapan (Deathly Hallows Part 1 dan Part 2), Yates siap menggarap film spin-off yang berasal dari dunia ‘Harry Potter‘ yakni Fantastic Beasts and Where to Find Them.


Fantastic Beasts memang telah direncanakan oleh Warner Bros untuk menjadi franchise selanjutnya yang akan mengekor kesuksesan ‘Harry Potter‘.


Terlebih lagi sang penulis novelnya, J.K.Rowling, bersedia untuk turun tangan langsung mengdapatasi novelnya menjadi skenario film.


Fantastic Beasts and Where to Find Them akan mengisahkan tentang petualangan seorang penulis bernama Newt Scamander dari komunitas penyihir rahasia di New York dalam mencari makhluk-makhluk ajaib yang tersebar di seantero dunia sihir.


Filmnya akan bersetting 70 tahun sebelum kejadian di buku dan film pertama Harry Potter.


Fantastic Beasts telah disiapkan akan menjadi trilogy dimana bagian pertamanya dijadwalkan akan rilis pada tahun 2016 menatang.


Apakah kelak Daniel Radcliffe akan turut tampil sebagai cameo?


Friday, August 22, 2014

HERCULES

[caption id="attachment_135" align="alignnone" width="558"]Hercules Hercules[/caption]








Hercules







Genre : Aksi, Petualangan, Fantasi
Tanggal Rilis Perdana : 25 Juli 2014 (AS)
MPAA Rating : Bimbingan Ortu
Studio : Paramount Pictures
Official Site


CAST & CREW




Sutradara : Brett Ratner
Produser : Beau Flynn, Barry Levine, Brett Ratner
Penulis Naskah : Ryan Condal, Evan Spiliotopoulos
Pemain : 
Dwayne JohnsonRufus Sewell, Ian McShane, Irina Shayk, Aksel Hennie, Joseph Fiennes, John Hurt, Rebecca Ferguson, Antje Traue, Reece Ritchie






 





 PLOT CERITA





 "Hercules" yang kini telah menjadi seorang tentara bayaran masih dihantui oleh dosa masa lalunya. Dengan lima sahabatnya, dia melakukan perjalanan ke Yunani menjual jasanya untuk mendapatkan emas dan menggunakan reputasinya untuk mengintimidasi musuh. Suatu ketika seorang pemimpin yang baik hati dan putrinya dari Thrace mencari Hercules untuk membantu mengalahkan seorang panglima perang kejam dan mengerikan. Hercules yang tersadar tentang keadilan bersedia membantu mereka untuk melawan panglima tersebut.



Tailler :


[embedplusvideo height="300" width="558" editlink="http://bit.ly/1q48xie" standard="http://www.youtube.com/v/HydiAICZq6I?fs=1" vars="ytid=HydiAICZq6I&width=558&height=300&start=&stop=&rs=w&hd=0&autoplay=0&react=1&chapters=&notes=" id="ep7521" /]



Sumber :wowkeren





Ngerinya Trailer Perdana Spin-Off The Conjuring 'Annabelle'

[caption id="attachment_128" align="alignnone" width="630"]Conjuring Conjuring[/caption]

Setelah teaser penuh teror, Warner Bros. kembali menghadirkan kesan seram di trailer perdana "Annabelle". Melanjutkan teasernya, pasangan suami istri yang sebelumnya menjadi saksi teror Annabele ternyata selamat.


Setelah pindah ke rumah baru, mereka terkejut ketika boneka Annabelle ikut terbawa. Awalnya John dan Mia Form tak mengira kalau insiden sebelumnya itu karena ulah Annabelle.

Namun seiring berjalannya waktu, sosok Annabelle semakin menyebar teror dan mengincar anak John dan Mia. Akankah mereka selamat dari teror tersebut?

"Annabelle" merupakan spin-off "The Conjuring". Film yang akan rilis 3 Oktober itu disutradarai John R. Leonetti dan diproduseri James Wan. Bintang-bintang yang memeriahkan film "Annabelle" yakni Annabelle Wallis, Ward Horton, Alfre Woodard, Tony Amendola dan Eric Ladin.

Berikut ini trailer perdana "Annabelle":

[embedplusvideo height="300" width="558" editlink="http://bit.ly/1wgaY6Z" standard="http://www.youtube.com/v/paFgQNPGlsg?fs=1" vars="ytid=paFgQNPGlsg&width=558&height=300&start=&stop=&rs=w&hd=0&autoplay=0&react=1&chapters=&notes=" id="ep4278" /]


Sumber : WowKeren.com


 

Thursday, August 21, 2014

Film The Purge: Anarchy (2014) Bioskop

[caption id="attachment_125" align="aligncenter" width="486"]The-Purge-Anarchy-2014 The Purge Anarchy 2014[/caption]


Update Film Thriller Terbaru Bioskop 2014 ~ Informasi Review dan Sinopsis The Purge: Anarchy 2014 Bioskop: Studio Movie Universal Pictures telah memproduksi sebuah Film bergenre Horror Thriller Sequel dengan Judul "The Purge: Anarchy". Film tentang The Purge "Pembersihan" di Amerika yang dibintangi Frank Grillo ini Rilis Bioskop Internasional Juli 2014 dan mungkin tayang di Bioskop Indonesia September 2014. Penasaran dengan Film ini?

Jika sobat ingin mengetahui lebih jelas dan lengkap, silahkan langsung saja dilihat dan dibaca informasi movie 2014 terbaru tentang Detal Pemain Review Sinopsis The Purge: Anarchy 2014 Movie Trailer Bioskop berikut:














# Poster ## Detail Film:
Film The Purge: Anarchy 2014
-film21bioskop.com-
* Movie Tayang: Agustus-September 2014
* Movie Realese: 20 Juni 2014
* Movie Theaters: 18 Juli 2014
* Genre: Horror Thriller Sequel
* Writer: James DeMonaco
* Director: James DeMonaco
* Companies: Universal Pictures
* Official from: universalpictures.com
* Official site: Blumhouse.com
* MPAA Rating: R
* Cast:
- Frank Grillo
- Zach Gilford -as- Shane
- Michael Kenneth Williams
- Carmen Ejogo
- Kiele Sanchez
- Keith Stanfield












Sinopsis The Purge: Anarchy 2014:
»
Sepasang suami istri baru dengan cepat mencoba untuk mendapatkan dan pergi ke rumah mereka sebelum The Purge "Pembersihan" dimulai, tapi mobil mereka mogok kehabisan gas, radio mengumumkan awal The Purge dimulai, pasangan ini tidak punya pilihan selain untuk meninggalkan mobil mereka. Beberapa meter berdiri kelompok dari Purgers ber-sepeda motor. Pasangan ini mencoba untuk bertahan dan melawan purgers.









# Video The Purge: Anarchy 2014 Movie Trailer Youtube #


[embedplusvideo height="350" width="700" editlink="http://bit.ly/1pN2sYy" standard="http://www.youtube.com/v/Yaoh3PqHG7I?fs=1" vars="ytid=Yaoh3PqHG7I&width=700&height=350&start=&stop=&rs=w&hd=0&autoplay=0&react=1&chapters=&notes=" id="ep1949" /]



Sumber : film21bioskop.com

SINOPSIS FILM LUCY 2014

[caption id="attachment_119" align="aligncenter" width="600"]LUCY LUCY[/caption]


INFO REVIEW SINOPSIS FILM LUCY 2014 - Universal Pictures mempersembahkan sebuah film karya Luc Besson dengan genre action, film ini dibintangi cewek cantik Scarlett Johansson pemeran tokoh wanita dalam film Iron Man 2, nah para sobat yang penasaran pastinya tak akan melewatkan film, kapan jadwal tayangnya? kita tunggu saja tanggal mainya.



Genre : Action
Durasi : 91 menit

Produser : Virginie Silla
Produksi : Universal Pictures
Sutradara : Luc Besson
Homepage : www.lucymovie.com


#SINOPSIS FILM LUCY 2014
Pekerjaan mudah yang harusnya dijalani Lucy (Scarlett Johansson) menjadi berat saat dirinya diculik oleh sekelompok gangster di Taipei. Kelompok gangster tersebut memanfaatkan tubuh seksi Lucy sebagai wadah menyimpan narkoba untuk diselundupkan.

Namun saat narkoba di dalam tubuh Lucy bocor ke dalam jaringan sistem tubuhnya, Lucy ternyata berubah menjadi wanita yang berbeda. Kini Ia bisa sangat peka dan memiliki kekuatan super. Otaknya mampu bekerja lebih cepat dibandingkan manusia biasa. Kemampuan yang terus berkembang di luar logika manusia.


Kemampuan ini dimanfaatkannya untuk membalas dendam kepada kelompok gangster yang dulu menyiksanya. Sambil membasmi para gangster, Lucy mencoba menghubungi Professor Norman (Morgan Freeman) dan berusaha mencari tahu apa yang terjadi pada dirinya.


Nah demikianlah informasi FILM lucy 2014 yang dapat kami sajikan, semoga dapat menjadi referensi buat sobat semua sebelum menyaksikan film ini, akan lebih asyik jika ditonton bersama orang terdekat sobat, pacar misalnya atau teman, ataupun bersama keluarga tercinta.



Trailler Film Lucy


[embedplusvideo height="350" width="758" editlink="http://bit.ly/1AAfDPU" standard="http://www.youtube.com/v/IL4nR6v17NY?fs=1" vars="ytid=IL4nR6v17NY&width=758&height=350&start=&stop=&rs=w&hd=0&autoplay=0&react=1&chapters=&notes=" id="ep5979" /]



Sumber : filmbioskoop.blogspot.com

SINOPSIS FILM RUDDERLESS 2014

[caption id="attachment_116" align="alignnone" width="940"]RUDDERLESS-2014 RUDDERLESS 2014[/caption]


INFO REVIEW SINOPSIS FILM RUDDERLESS 2014 - Paramount Pictures mempersembahkan sebuah film karya William H. Macy yang bergenre drama, film yang berdurasi 105 menit ini memiliki cerita yang menarik, nah para sobat semua ajak teman atau pacar untuk menyaksikan dibioskop terdekat sobat tinggal.



Genre : Drama
Film Rilis : TBA 2014 (Limited)
Durasi : 105 menit
Studio : Paramount Pictures
Sutradara : William H. Macy
Produser : Keith Kjarval, Brad Greiner
Penulis Naskah : William H. Macy, Casey Twenter, Jeff Robison


Pemain :
Billy Crudup, Anton Yelchin, Selena Gomez, Felicity Huffman, Laurence Fishburne, William H. Macy.


#SINOPSIS FILM RUDDERLESS 2014 Film ini menceritakan tentang seorang pria Sam yang bekerja dibidang periklanan di perusahaan besar, Namun pada suatu saat tiba2 hidupnya berubah ketika terjadi kematian tragis dari putranya. Pada suatu hari Sam menemukan kotak penuh dengan kaset demo beserta lirik peninggalan anaknya. Bermula dari itu Sam mencoba untuk menjadi musisi demi melanjutkan karya peninggalan dari anaknya. Tak disangka ada seorang pemuda yang tertarik kemudian mengajak masuk kedalam bandnya, dan akhirnya kehidupan sam pun mulai membaik dan meraih kesuksesan kembali.


Nah demikianlah informasi FILM RUDDERLESS 2014 yang dapat kami sajikan, semoga dapat menjadi referensi buat sobat semua sebelum menyaksikan film ini, akan lebih asyik jika ditonton bersama orang terdekat sobat, pacar misalnya atau teman, ataupun bersama keluarga tercinta.



Sumber : filmbioskoop.blogspot.com

SINOPSIS FILM THE NOVEMBER MAN 2014

[caption id="attachment_109" align="aligncenter" width="600"]November-Man November Man[/caption]

SINOPSIS FILM THE NOVEMBER MAN 2014 - Relativity Media memeprsembahkan sebuah film karya Roger Donaldson bergenre aksi, film ini dibintangi oleh Pierce Brosnan dn akan dijadwalkan tayang pada akhir agustus 2014.




Genre : Aksi, Thriller
Film Rilis : 27 Agustus 2014
Studio : Relativity Media
Sutradara : Roger Donaldson
Produser : Beau St. Clair, Sriram Das
Penulis Naskah : Michael Finch, Karl Gajdusek



Pemain :
Pierce Brosnan, Olga Kurylenko, Luke Bracey, Eliza Taylor, Will Patton, Patrick Kennedy, Bill Smitrovich, Caterina Scorsone.


#SINOPSIS FILM THE NOVEMBER MAN 2014


[embedplusvideo height="350" width="558" editlink="http://bit.ly/1AAcbFd" standard="http://www.youtube.com/v/d84lVJGOreI?fs=1" vars="ytid=d84lVJGOreI&width=558&height=350&start=&stop=&rs=w&hd=0&autoplay=0&react=1&chapters=&notes=" id="ep5018" /]

Film yang menceritakan tentang seorang bernama Peter Devereaux (Pierce Brosnan) mantan anggota CIA yang kembali beraksi dalam sebuah misi yang sangat pribadi. Kali ini Ia menemukan dirinya melawan mantan anak didik di permainan maut yang melibatkan pejabat pemerintah tinggi AS tinggi dan Presiden Rusia.





#TRAILER FILM THE NOVEMBER MAN 2014

Nah demikianlah informasi FILM THE NOVEMBER MAN 2014 yang dapat kami sajikan, semoga dapat menjadi referensi buat sobat semua sebelum menyaksikan film ini, akan lebih asyik jika ditonton bersama orang terdekat sobat, pacar misalnya atau teman, ataupun bersama keluarga tercinta.

Sumber:filmbioskoop.blogspot.com


 



Tuesday, August 19, 2014

TEENAGE MUTANT NINJA TURTLES (2014) REVIEW : BAY-ISM TALKING REPTILE [WITH 3D REVIEW]

TMNT-2014-Desktop-Wallpaper-HD1

Satu persatu ‘teman-teman’ semasa kecil mulai diangkat kembali. Memberikan kembali sinar kepada mereka karakter-karakter yang sudah mulai meredup tetapi setia menemani perjalanan hidup anak-anak pada masa itu. Banyak sekali karakter-karakter di masa itu dikenalkan kembali di masa sekarang hanya untuk sekedar dikenalkan pada generasi baru di masa ini atau hanya memberikan efek nostalgia dengan karakter-karakter tersebut.

Kali ini giliran para kura-kura mutasi yang jago bermain ninjutsu di dalam film Teenage Mutant Ninja Turtles kembali diberikan kesempatan sekali lagi lewat film layar lebar live action. Setelah sempet pernah ada beberapa tahun silam karakter ini kembali lewat film layar lebar tetapi dalam versi animasi. Michael Bay duduk di kursi produser dan Jonathan Liebesman sebagai kaki tangannya untuk mengarahkan para kura-kura ninja ini.



Teenage Mutant Ninja Turtles pun me-restart cerita di mana perusahaan Sacks yang hancur lebur karena kebakaran. Kehancuran perusahaan milik Eric Sacks (William Ficthner) ini adalah ulah foot clan yang mencoba mencuri serum yang disuntikkan kepada empat kura-kura bernama Leonardo, Raphael, Micheangello, dan Donatello.

Beberapa tahun berikutnya, April O’neil (Megan Fox) seorang jurnalis dari Channel 6 berusaha untuk mencari tahu kasus-kasus milik Foot Clan. Hingga suatu saat, April memergoki Foot Clan sedang menjalankan misinya dalam melakukan kejahatan. Hal tersebut membawa April O’neil bertemua dengan kura-kura yang termutasi tersebut. Mereka tumbuh dan berkembang menjadi sosok yang dapat menyelamatkan New York dari kejahatan Shredder (Tohoru Masamune).



Bay’s talking reptile pet.

Teenage Mutant Ninja Turtles is back. Tetapi, lampu kuning masih menyala ketika film ini ternyata diolah oleh Michael Bay. Ya, meskipun Michael Bay duduk di kursi produser untuk proyek ini rasa was-was juga masih menghantui hasil dari film ini. Dan cukup ditakutkan lagi oleh tangan yang mengarahkan Teenage Mutant Ninja Turtles ini adalah Jonathan Liebesman yang gagal dalam mengarahkan Battle : Los Angeles.

Jonathan Liebesman tentu harus melakukan banyak hal agar membangun reputasi yang baik dan bisa jadi Teenage Mutant Ninja Turles bisa dijadikan batu loncatannya baginya. Tetapi, kesempatan itu belum juga digunakan dengan baik oleh sang sutradara. Alih-alih digunakan batu loncatan, Teenage Mutant Ninja Turtles hanyalah replika dari kegagalan Battle : Los Angeles miliknya dengan gaya yang lebih stylish dan pusing ala-ala Michael Bay untuk film Transformers miliknya.



Opening film ini digunakan untuk menjelaskan kronologi cerita yang bisa dibilang cukup singkat. Ya, Jonathan Liebesman tak perlu banyak basa-basi terhadap sosok Teenage Mutant Ninja Turtles. Segala cerita berjalan cepat dengan naskah yang mediocre. Naskah yang ditulis ramai-ramai oleh Josh Appelbaum, Andre Nemec, dan juga Evan Daugherty ini pun mencoba untuk terlihat fun dan lincah layaknya tingkah laku para kura-kura di film ini. Sayangnya, arahan dari Jonathan Liebesman yang masih belum kuat sehingga tidak ada nyawa untuk filmnya.

Para penulis naskah sudah susah-susah memberikan banyak sekali referensi pop culture amerika terlebih tentang film supaya Teenage Mutant Ninja Turtles bisa mengajak penontonnya tertawa riuh saat menontonnya. Potensi terkuat yang dimiliki oleh Teenage Mutant Ninja Turtles yang setidaknya bisa membuat film ini menghibur pun tidak diindahkan oleh Jonathan Liebesman. Jokes cerdas itu terasa sia-sia dibuat dengan arahan Jonathan Liebesman yang ala kadarnya. Begitu pun dengan beberapa jokes slapstick murahan yang tidak malah membuat penontonnya tersenyum.



Kesalahan lain dari Teenage Mutant Ninja Turtles adalah memaksakan setiap tribute dari seri kartun, live action pada jamannya waktu itu untuk ada di film ini. Trademark yang sudah melekat pada karakter kura-kura ninja ini pun terpaksa ada agar memberikan efek nostalgia bagi penontonnya. Mungkin akan tepat sasaran untuk para penggemarnya, tetapi untuk orang yang tidak mengikuti karakter ini semua akan datang secara tiba-tiba. Bukan untuk dikenang lagi sehingga para penonton awam juga akan ikut mengingat trademark dari karakter kura-kura ninja ini.

Lalu, apa yang diharapkan di dalam Teenage Mutant Ninja Turtles? Cerita? Bukan. Poin cerita untuk film ini adalah bagian terburuk dari filmnya. Dari durasinya yang sepanjang 100 menit ini, cerita bukanlah hal yang penting untuk ditilik lebih dalam. Plot pun setipis kertas, mungkin dalam durasi sekitar 45 menit semua cerita berhasil disampaikan. Cerita hanyalah sebagai pemanis untuk film ini, berada di barisan paling belakang tanpa ada penanganan yang cukup baik. Maka, tentu penonton akan tahu ke mana sisa durasi itu akan menuju.



Ya, sisanya durasi tentu digunakan sebagai action sequences dengan penuh CGI yang terlalu panjang sehingga tidak bisa menemukan unsur yang fun di dalamnya. Lihat, siapa yang berada di kursi produser di film ini. Tentu, action sequences untuk film ini pun disajikan ala Michael Bay. Akan banyak sekali ditemukan trademark milik Michael Bay di film ini.

Ledakan dan hancurnya kota yang juga masih menggunakan gaya milik Michael Bay. . Dengan beberapa trademark milik Michael Bay yang digunakan di film ini, membuat Teenage Mutant Ninja Turtles tidak memiliki hal yang baru. Everything in this movie was been-there done-there and without some innovation. Dan, tidak ada sedikitpun serpihan-serpihan kota hancur yang berhasil memporak porandakan make-up tebal milik Megan Fox.





Tentu, Teenage Mutant Ninja Turtles adalah perjalanan yang cukup melelahkan. Bukan hanya dalam segi cerita, tetapi juga dengan action sequences-nya yang juga terlalu banyak CGI yang akan memusingkan mata pun terlalu panjang. Akhirnya, Teenage Mutant Ninja Turtles akan menjadi tontonan yang cukup menyakitkan untuk ditonton. Well, called this Transformers in talking reptile version. Because there is nothing more than that. Duh!

TRANSFORMERS : AGE OF EXTINCTION (2014) : PLOT’S EXTINCTION [WITH 3D REVIEW]

transformers_age_of_extinction_movie-wide

Adaptasi dari sebuah mainan milik Hasbro ini, sekali lagi mendapatkan kesempatan untuk tampil di layar lebar. Sebelumnya, 3 film pernah dibuat dan mengantongi tanggapan beragam untuk film pertamanya. Dengan installment yang terus dibuat, tanggapan negatif pun semakin banyak dikantongi oleh Transformers series. Michael Bay selaku sutradara film robot milik Hasbro ini pun mengambil langkah antisipasi agar Transformers kembali mendapat kepercayaan.


Michael Bay pun berusaha untuk me-reboot karya miliknya ini. Dengan mengganti lead actor dengan yang lebih baik, dari Shia Labeouf ke Mark Wahlberg. Ya, setidaknya ada harapan baru bagi kelangsungan franchise satu ini. Michael Bay pun berusaha untuk membangun kembali image mainan milik Hasbro ini agar bisa mendapatkan kepercayaan yang lebih lagi khususnyauntuk kritikus juga penonton yang sudah mulai bosan dengan pola Transformers ala Bay ini.



Karya keempatnya ini pun mengambil judul Transformers : Age of Extinction dengan logo Transformers yang dirubah lebih elegan. Kali ini bukanlah menceritakan si canggung Sam Witwicky melainkan karakter baru yaitu Cade Yeager (Mark Wahlberg), seorang scientist yang sudah bangkrut. Dia tinggal bersama dengan anaknya, Tessa (Nicola Peltz) mereka hidup dengan penuh kesusahan.

Hingga suatu ketika, Cade Yeager membeli truk rongsokan yang mengubah segalanya. Truk tersebut adalah Optimus Prime yang sedang berusaha untuk diperbaiki. Amerika memang sedang gencar menyerang Decepticon. Tetapi, yang diserang aslinya adalah Autobots yang sudah biasa melindungi manusia dari ancaman Decepticon yang berusaha menguasai dunia.



165 minutes full of loud visual effects, but there’s nothing more than that.

Semakin lama semakin menunjukkan bahwa Transformers mungkin bukanlah pertunjukkan film yang dihiasi oleh plot cerita yang baik. Tetapi, akan memamerkan visual effect yang megah (atau cenderung berlebihan) untuk filmnya. And yes, it works sometimes especially for people who love that thing. Tetapi, bukan berarti dengan visual efek yang megah tidak bisa memberikan plot yang setidaknya sepadan, bukan?

Jika ditilik dari seluruh seri dari franchise robot Hasbro ini, seri pertama adalah seri yang seimbang. Visual effect dan plot bisa berjalan berdampingan dan menyenangkan untuk diikuti. Sayangnya, ketika franchise ini mencapai puncak Box Office dan berusaha untuk membuat sekuel lagi dan lagi, penonton akan mulai bosan dengan pola yang ditawarkan dengan film ini. Mencoba untuk me-reboot franchise ini? rasanya tidak perlu, terlebih Michael Bay masih melakukan hal yang sama dengan seri terbarunya ini.



Transformers : Age Of Extinction pun tak bisa menjadi harapan baru bagi franchise ini. Michael Bay masih saja menggarap seri keempat ini tanpa belajar dari seri-seri yang sudah dikerjakan sebelumnya. Secercah harapan baru datang ketika Mark Wahlberg sudah menggantikan posisi Shia LaBeouf. At least, Michael bay sudah menemukan aktor yang bisa berperan lebih baik daripada sebelumnya. Tetapi, dengan adanya pergantian pemain saja masih kurang cukup.

Transformers : Age Of Extinction ini berdurasi 165 menit dan bisa dibilang adalah seri Transformers dengan durasi yang paling lama. Dan dengan durasi yang cukup lama ini, tidak ada plot cerita yang bisa menyokong durasinya yang lama. Seperti dengan judulnya, kepunahan sebenarnya terjadi di film ini, yaitu dari segi plot. Dengan plot yang setipis kertas itu, tidak bisa menggerakkan durasinya yang kelewat panjang itu. Alhasil, penonton akan merasa lelah untuk mengikuti setiap menit dari film ini.



Perjalanan Age of Extinction pun semakin sulit ketika banyak sekali adegan-adegan yang membuat mata penontonnya berputar karena terlalu cheesy. Naskah milik Ehren Kruger ini seperti tidak memiliki inovasi untuk film robot-robotan ini. Beberapa dialog akan terdengar sangat cheesy, jokes yang ditampilkan pun hit and miss (sebenarnya sebagian besar jokes di film ini jatuhnya miss), one-punch line yang dilontarkan oleh satu karakter komikal di film ini pun tak mampu mengundang penonton untuk tertawa.

Sungguh ironi, ketika Ehren Kruger berusaha untuk menuliskan dialog sindirian tentang sebuah sekuel, prekuel, atau rip-off yang semakin lama, semakin tidak tertangani dengan baik. Tetapi, hal itu seperti sebuah bumerang bagi film ini sendiri. Entah, mungkin ini adalah keluh kesah dari Michael Bay yang coba untuk dia sodorkan kepada penontonnya saat menggarap sebuah sekuel. Atau, mungkin dialog tersebut menunjukkan semangat optimis yang coba ditampilkan saat Michael Bay menggarap seri keempat dari film ini.

Maka hal yang masih dipegang oleh Transformers : Age of Extinction ini adalah keunggulan dari segi teknis. Visual dari seri keempat ini tidak memiliki warna yang terlalu mencolok mata. Visual-nya lebih elegan dengan iringan slow motion, meskipun kurang pas di beberapa adegan. And yes, see it on a bigger screen, karena setiap adegannya menggunakan kamera IMAX dan akan terlihat jelas ketika menyaksikannya di layar lebar.



Anggap saja, Transformers : Age of Extinction adalah style over substance. Tetapi, plot penggerak untuk film durasi 165 menit ini benar-benar kosong dan tak lain hanyalah cerita tentang ayah, anak, dan calon menantu saja. Setiap paruh film ini pun terasa sangat episodik, akan terasa adanya pembagian cerita di per-satu jam filmnya. Plot hanya berjalan sekitar 100 menit film ini karena durasi sisanya akan penuh dengan battle antar robot dan pemandangan kota yang hancur. Serta penampilan Dinobots yang patut untuk ditunggu. Tentu, Transformers : Age of Extinction terlalu panjang untuk film yang berisikan tentang ledakan-ledakan visual efek.



Michael Bay tetaplah seorang Michael Bay. Dia bisa memaksimalkan setiap budget yang ada untuk menghasilkan output film yang megah meskipun plot menjadi plot setiap filmnya. Toh, Age Of Extinction tak pelak hanya sebuah CGI-vaganza dengan plot yang hanya dijadikan Tempelan semata untuk filmnya. Tempelan yang akan semakin lama akan semakin tidak kuat dan tinggal menunggu waktu akan mengelupas dengan sendirinya.



Overall, Transformers : Age of Extinction hanyalah pameran visual effect tanpa memperdulikan plot. Tentu akan memuaskan penonton yang menyukai visual effect dan ledakan di setiap menit filmnya. Dan dengan durasinya yang cukup lama, plot-nya yang setipis kertas itu pun tak kuat untuk menjalankan 165 menitnya. Well, called this Transformers : Extinction of the story.

DAWN OF THE PLANET OF THE APES (2014) REVIEW : DAWN OF THE REMARKABLE SEQUEL [WITH 3D REVIEW]

planet-of-the-apes-dawn-01

Kera sudah mengambil alih dunia dan menjatuhkan para manusia. Hal tersebut sudah terjadi sejak remake dari Planet of The Apes oleh Tim Burton yang menunjuk Mark Wahlberg sebagai ilmuwan yang tersesat dalam planet penuh kera. Ketika film tersebut sudah tidak mendapat highlight, 10 tahun kemudian, prekuel dari film milik Tim Burton ini pun mendapat slot untuk rilis. Dengan komando dari Rupert Wyatt, Rise of The Planet of the Apes berhasil menarik hati para kritikus serta pendapatan yang cukup di tangga box office.

Tentu, 20th Century Fox selaku rumah produksi yang menaungi film ini pun memberikan lampu hijau untuk menggarap lagi sekuel dari prekuel ini. Dengan tim penulisan naskah yang sama, tetapi ada yang berbeda untuk sekuelnya. Kali ini, komando bukanlah dari Rupert Wyatt, melainkan datang dari Matt Reeves yang mengarahkan bagaimana jalannya sekuel ini. Dawn of The Planet of The Apes pun mendapat slot rilis di tahun ini.



Tentu, Dawn of the Planet of the Apes melanjutkan timeline cerita dari Rise of the Planet of the Apes. Setelah kehancuran yang disebabkan oleh Caesar (Andy Serkis) dan kawan-kawan kera-nya, bumi mengalami banyak kehancuran. Para manusia terkena virus-virus mematikan yang memaksa mereka harus rela untuk bertahan hidup dengan serba kekurangan. Flu Siaman, menyerang para manusia dan menyebabkan spesies manusia semakin menipis.

Malcolm (Jason Clarke) datang ke hutan untuk mencari bendungan agar bisa menyalakan listrik untuk kehidupan manusia. Sayangnya, hutan tersebut telah menjadi tempat tinggal para kera yang dipimpin oleh Caesar. Malcolm dan tim berusaha bernegosiasi dengan Caesar agar bisa mengelola bendungan tersebut. Tetapi, Caesar pun mengalami konflik dengan para kawanan kera-nya yang sudah tidak percaya dengan manusia. Sehingga, kubu yang tidak percaya mencoba untuk men-sabotase hubungan manusia dengan kera dan perang pun di mulai.


Outstanding performances in any aspect.

Pergantian bangku sutradara untuk sebuah film sekuel tentu menjadi momok tersendiri. Jika salah pilih, jelas akan terjadi sebuah bencana bagi kelangsungan film sekuelnya. Beban yang dipikul oleh sutradara baru akan lebih berat. Tak bisa dibantah bahwa kinerjanya akan dibanding-bandingkan dengan hasil dari sutradara sebelumnya. Rupert Wyatt sudah mematok nilai yang tinggi untuk hasil jerih payahnya di Rise of the Planet of the Apes. Hal tersebut akan memacu Matt Reeves untuk menghasilkan output yang akan menyamai predesesornya atau malah bisa melebihi predesesornya.

Tetapi 20th Century Fox patut bergembira, karena Matt Reeves dan karya-karyanya tidak bisa diremehkan begitu saja. Kredibilitas Matt Reeves sudah sangat bagus di ranah perfilman Hollywood. Hal ini berdampak pada karya terbarunya yaitu Dawn of the Planet of the Apes. Sekuel dari prekuel Planet of the Apes ini dengan gampang menyaingi predesesornya. Bahkan, bisa dibilang Dawn of the Planet of the Apes memiliki kualitas dua kali lebih bagus ketimbang sang predesesor.

Kerja sama yang baik sebagai tim sangat diperlihatkan oleh Matt Reeves dengan para tim penulis naskah. Apa yang disajikan oleh Dawn of the Planet of the Apes memiliki cerita yang sangat padat dengan durasinya 120 menit. Tak perlu panjang-panjang dalam bertutur tetapi berhasil memikat penontonnya dengan cerita yang menarik. Memang, Dawn of the Planet of the Apes memiliki pace yang lambat jika dibandingkan dengan Rise of the Planet of the Apes.



Tetapi, dengan pace yang lambat itu akan berhasil memberikan development character yang sangat baik. Tidak ada kesan draggy, setiap ceritanya mengalir dengan sangat baik dan tak terasa penonton pun akan tiba dipenghujung filmnya dan akan menantikan seri berikutnya. Jika Rise of the Planet of the Apes masih memiliki karakter manusia yang juga sama kuatnya dengan Caesar, maka berbeda dengan film lanjutannya kali ini. Fokus cerita dan karakter yang dikembangkan lagi di film ini adalah Caesar dan kawanan kera-nya yang sedang mengalami konflik dengan para manusia.

Sehingga di sepanjang film, layar bioskop akan dipenuhi dengan para kera yang berinteraksi satu sama lain tanpa dialog. Menonton para kera berinteraksi dengan bahasa mereka yang mungkin akan membuat geli penonton awam yang tidak pernah mengikuti setiap seri Planet of the Apes. Padahal, di setiap scene tersebut memiliki dialog-dialog yang krusial untuk menit-menit selanjutnya pada film Dawn of the Planet of the Apes.



Yang jelas, nama-nama seperti Jason Clarke, Keri Russell, Kodi Smit-McPee, dan bahkan nama legenda Gary Oldman tidak bisa memberikan penampilannya yang memorable. Karena screening time mereka yang cukup sedikit ketimbang para kera yang ada di film ini. Setidaknya, mereka tetap memberikan penampilan yang maksimal untuk kelangsungan filmnya. Maka, penampilan terbaik jatuh kepada Andy Serkis yang memerankan Caesar dengan teknologi motion capture yang luar biasa. Penampilannya sebagai Caesar layak mendapatkan penghargaan lebih dari penontonnya.

Teknologi motion capture-nya pun semakin berkembang. Setiap visual effect di setiap adegannnya digarap begitu megah dan semakin halus jika dibandingkan dengan Rise of the Planet of the Apes. Hal ini akan menguatkan bahwa Dawn of the Planet of the Apes setidaknya akan mendapatkan nominasi di ajang bergengsi, Academy Awards untuk nominasi Visual Effect Terbaik.



Hal lain yang membuat Dawn of the Planet of the Apes sangat layak ditonton oleh semua orang adalah bagaimana sang penulis naskah memberikan beberapa dialog-dialog yang pintar untuk menyindir masalah-masalah sosial. Dawn of the Planet of the Apes penuh dengan nilai-nilai sosial dan pesan moral di sepanjang filmnya. Memberikan tanda atau lambang metaforik untuk merepresentasikan setiap pesan moral-nya sehingga tidak ada kesan menggurui untuk penuturannya. Dan akan dengan mudah, pesan tersebut akan menancap di hati penontonnya.



Begitulah, Dawn of the Planet of the Apes yang dengan mudah akan merebut hati penontonnya. Dengan mudah menobatkan film ini menjadi salah satu film sekuel terbaik yang pernah ada dan tentu akan banyak orang akan menempatkan film ini di urutan teratas film terbaik sepanjang tahun ini. Serta, penonton akan sangat menantikan apa yang akan terjadi dengan Caesar dan kawanannya di film selanjutnya yang akan rilis di tahun 2016. Mengagumkan.

STEP UP : ALL IN (2014) REVIEW : ALL IN, FALL OUT

stepup-allin-banner

Siapa yang tak kenal franchise dari film tari modern dengan judul Step Up ini? Semenjak tahun 2006, film ini benar-benar booming menghibur para penonton dan fans dari tarian modern. Aktor kaliber Channing Tatum pun mengawali perjuangan Step Up dalam meraih penontonnya hingga ke installment kedua dari film Step Up. Akhirnya, setiap 2 tahun sekali film Step Up hadir untuk meramaikan bioskop.

Setelah di tahun 2012 lalu, setidaknya berhasil menghibur penonton dengan tarian yang menarik lewat Step Up Revolution, maka di tahun 2014 ini Step Up lagi-lagi merilis seri terbarunya. Dan katanya adalah installment terakhir dari franchise ini. Trish Sie ditunjuk sebagai sutradara untuk film terbarunya kali ini menggantikan Scott Speer. Tetap, Jon M. Chu yang menghidupkan franchise Step Up ini mengawasi kelangsungan dari film Step Up terbaru ini sebagai produser.



‘All In’ digunakan sebagai judul penanda installment kelima dari Step Up ini. Meneruskan cerita dari Step Up : Revolution, Sean (Ryan Guzman) mencoba untuk bertahan hidup dengan hobi menarinya. Dengan timnya – The Mob – Sean berusaha untuk mengikuti casting di banyak tempat agar tim-nya tetap eksis pasca kejadian Miami yang pernah melambungkan nama tim mereka. Sayangnya, hal tersebut tidak berjalan lancar dan malah membuat Sean ditinggalkan oleh tim mereka.

Tak mau begitu saja terpuruk, Sean akhirnya menemukan iklan di internet tentang kompetisi dance di Las Vegas yang diadakan oleh penyanyi terkenal. Sean pun mengajak Moose (Adam G. Sevani) untuk ikut dalam kompetisi dance tersebut. Tetapi, Sean tidak memiliki tim untuk mengikuti kompetisi tersebut. Moose pun mengajak Sean untuk bertemu dengan Andie (Briana Evigan) untuk mengajak beberapa orang agar masuk ke dalam tim yang akan ikut dalam berkompetisi.



‘All In’ is a reason this franchise should be done.

Setelah berhasil membuat penonton terkesima lewat dance di dua installment sebelumnya, tentu berdampak pada excitement di installment selanjutnya. Mungkin juga, beberapa orang juga sudah mulai lelah untuk mengikuti franchise yang tidak kunjung berakhir. Meski begitu, franchise ini tetap melenggang dengan penuh percaya diri untuk menghibur para penonton dan fans dari franchise ini sendiri. Terlebih, film ini juga katanya adalah seri penutup dari franchise ini.

Step Up bukanlah presentasi film yang akan menjual segala teknis cerita yang begitu kuat se-kaliber oscar. Harapkan sesuatu yang menyenangkan yang datang dari seni koreografi tarinya yang indah. Dan itulah kekuatan sebenarnya dari franchise Step Up. Setelah kemasan dance yang menarik di installment sebelumnya, Step Up : All In adalah pertunjukkan yang mengalami kepudaran dalam segala aspek teknis yang harusnya menjadi kekuatan dari franchise ini.

Tanggung jawab Trish Sie selaku sutradara tidak bisa terlaksana dengan baik. Step Up : All In tidak bisa memikat penontonnya. Trish Sie terlalu menekankan isi cerita yang akhirnya malah berujung kurang indah untuk 90 menit filmnya. Tak perlu terlalu berkutat dengan isi cerita karena akhirnya hal tersebut tentu akan menguak betapa minimnya penggarapan naskah yang ditulis oleh John Swetnam ini. Dan hal itulah yang terjadi di Step Up : All In



Predictable plot? Jelas tak bisa terelakkan lagi. Step Up akan selalu mengulang-ulang formula yang sama. Tetapi apa yang terjadi di Step Up : All In ini benar-benar dalam masa titik yang paling rendah di dalam franchise-nya. Akan banyak sekali momen-momen cheesy yang dalam kadar yang tidak wajar yang memenuhi setiap durasinya. Bisa dibilang, Step Up : All In pun mengalami penggarapan yang juga minim sehingga terasa seperti film direct-to-video.

Mari jauh-jauhkan rasa penasaran anda dengan cerita apa yang akan diangkat oleh Step Up : All In. Serta jauhkan pula ekspektasi dance yang akan menggelegar layaknya Step Up : Revolution atau Step Up 3D. Karena dance yang disajikan untuk film Step Up : All In ini pun tidak ada yang mampu mengikat penontonnya. Banyak sekali koreografi yang been there, done there tetapi dengan kemasan yang minimalis serta dibalut dengan lagu yang mungkin kurang ear-catchy.



Penonton akan kurang terkesima dengan beberapa adegan yang menyajikan rupa-rupa tari modern yang ada di film ini. Serta penonton pun tidak akan mempunyai minat untuk mencari tahu lagu-lagu apa saja yang digunakan dalam mengiringi tarian tersebut. Tetapi satu yang akan membuat film ini setidaknya masih memiliki daya pikat itu, satu tarian khusus yang berada di penghujung durasi film Step Up : All In. Yah, penonton diajak untuk bersabar hingga akhirnya menikmati tarian tari yang megah itu.

Satu poin lagi yang akan disukai oleh penonton–khususnya untuk para fans franchise ini– yaitu film ini jelas digunakan sebagai ajang reuni para pemain dari Step Up 2. Ya, bukan dari Step Up pertama yang berhasil menjadikan Channing Tatum sebagai pionir. Sehingga, penonton khususnya fans akan merasakan sedikit nostalgia dari seluruh seri franchise tari modern ini. Meskipun, penutup franchise ini tidak meninggalkan sisa yang begitu baik kepada penontonnya.



Mari kita sambut Step Up : All In sebagai penutup franchise Step Up yang sudah menemani penonton bioskop selama 8 tahun terakhir. Meski menjadi sebuah penutup dan digadang menjadi sesuatu yang besar, Step Up : All In bukanlah penutup yang baik untuk sebuah franchise. Ya, sudah saatnya franchise ini untuk tutup usia dan Step Up : All In menjadi alasan yang tepat untuk mengakhirinya.

THE EXPENDABLES 3 (2014) REVIEW : THE (WRINKLED) MUSCLE’S SHOW

The-Expendables-3-Banner-Wallpaper1-2560x1440

Sylvester Stallone memang berhasil dalam mengumpulkan para aktor laga dan melakukan sedikit nostalgia-nya di sebuah film. The Expendables menjadi satu proyek yang akan dipenuhi oleh para aktor film laga berbadan gempal meskipun para aktor sudah tidak muda lagi. Sayang, seri pertama dari film penuh otot ini harus menuai kritik negatif dari para kritikus film. Sylvester Stallone pun menyerahkan kursi sutradara kepada Simon West yang secara mengagetkan memberikan dosis Fun yang menyegarkan film aksi ini.

Maka, Sylvester Stallone pun memanggil sebanyak mungkin aktor-aktor legendaris di film ketiganya ini. Dan kali ini, kursi sutradara jatuh kepada Patrick Hughes yang juga akan mengarahkan remake dari film aksi dengan martial art milik Indonesia, The Raid. Tentu, Sylvester Stallone tidak membiarkan anak bawang pada dunia perfilman ini sendirian. Karena masih ada campur tangan Sylvester Stallone untuk seri ketiganya kali ini.



The Expendables 3 di mulai ketika Barney Ross (Sylvester Stallone), Lee (Jason Statham), Gunner (Dolph Lundgren), dan Toll (Randy Couture) menyelamatkan Doc (Wesley Snipes) yang menjadi tahanan dan mengajaknya bergabung dengan The Expendables. Mereka pun mendapatkan misi untuk menangkap seorang penjual senjata dengan nama samaran. Sesaat ketika diketahui, penjahat itu adalah Conrad Stonebanks (Mel Gibson), teman Barney Ross.

Barney Ross pun mencoba segala cara untuk menangkap Conrad hingga akhirnya harus melukai anggota dari The Expendables. Hal tersebut membuat Barney Ross terpukul dan mengakhiri The Expendables untuk mencari tim baru karena dia sudah tidak mau melukai teman-teman mereka yang sudah dianggap keluarga. Dengan tim baru, Barney Ross mencoba untuk menangkap Conrad Stonebanks.



The Suppermasive with Nothing.

Sudah dua kali Sylvester Stallone dan teman-temannya mendapat kesempatan untuk ‘reuni’ di sebuah film laga. Setelah kesuksesannya menghibur para penontonnya di seri kedua, tentu film ini akan berlanjut di seri-seri berikutnya. Dan menunggu waktu hingga Sylvester Stallone dan tim akan lelah untuk mengembangkan ide cerita seperti apa lagi yang akan membuat penontonnya masih minat menonton film penuh laki-laki berotot besar ini.

Yang jelas, Hollywood tidak akan kehabisan ide bagaimana mempromosikan film The Expendables ini agar awet sebagai franchise film aksi. Ya, tentu daya tarik seri-seri ini adalah aktor-aktor lama yang legendaris dengan tujuan bernostalgia menonton aksi mereka di layar lebar –di action genre film, khususnya. Dan hal itu terjadi di The Expendables 3, di mana banyak sekali aktor-aktor laga legendaris kembali menunjukkan sinarnya untuk beradu akting kembali meskipun, kerutan di wajah mereka tidak menutupi usia mereka yang sudah tidak muda lagi.

Tentu, The Expendables 3 akan mampu menarik penontonnya untuk menyaksikan para aktor-aktor tua berada di satu frame film. Sayangnya, The Expendables 3 tidak mampu untuk memikat penontonnya dengan aksi penuh adrenalin yang memikat. The Expendables 3 mungkin terasa lebih kelam jika dibandingkan dengan dua seri sebelumnya. Ya, film ini memiliki tutur cerita yang lebih personal untuk karakter Barney Ross.



Alih-alih untuk memberikan tutur cerita dan pendalaman karakter yang lebih, tetapi kurang bisa memberikan relation yang baik antara karakter dengan penontonnya. Arahan milik Patrick Hughes ini pun masih dikategorikan dalam kategori lemah. The Expendables 3 pun penuh dengan ledakan tetapi sayang ada sesuatu yang kurang saat adegan ledakan itu tersaji untuk menyenangkan para penontonnya. Kurang ada rasa ‘senang-senang’ yang ada di film keduanya.

Suspense dalam adegan aksi itu pun tidak ada. Sehingga, 120 menit film ini hanya dipenuhi dengan kebisingan, ledakan, dan api tipe film kelas B yang tidak ada rasa spesialnya sama sekali. Mungkin para penonton berumur akan merasakan referensi dari film-film aksi para aktor di film ini tetapi hal tersebut kurang terolah baik sehingga menjadi efek minor dalam action sequences-nya. Tidak layaknya seri kedua yang memiliki suspense dan unsur fun dengan dosis tinggi dengan referensi film-film para aktor yang terlibat di film ini sebagai pemanis.



Pun terasa bahwa The Expendables 3 masih terasa episodik. Di seri ketiga ini terlihat bahwa tim penulis naskah ini menginginkan gabungan antara dua seri The Expendables sebelumnya bahkan ingin terlihat lebih baik dari dua seri sebelumnya. Unsur ‘serius’ yang menjadi trademark di seri sebelumnya ada di seri ini tetapi, juga tidak mau meninggalkan unsur ‘fun’ yang menjadi kelebihan dari seri keduanya. Semua di-push menjadi satu di film ketiganya dengan arahan yang minim oleh sang sutradara sehingga semuanya terasa begitu episodik dan beberapa akan hit and miss.

Sylvester Stallone pun mencoba untuk menggabungkan old-school action dengan espionage action yang akhirnya malah melunturkan jati diri The Expendables yang biasanya mengangkat rasa old-school film ini. Ya, mungkin Sylvester Stallone ingin melakukan inovasi agar filmnya ini memiliki cita rasa masa kini terlebih dengan adanya beberapa karakter dengan aktor-aktris muda. Sayangnya, kesan karakter berjiwa muda ini masih kurang memilik gaungnya ketimbang geng yang lebih tua.



Sudah saatnya untuk Sylvester Stallone memberikan inovasi selain para aktor laga legendaris yang ter-assemble di dalam satu frame film. Karena, The Expendables 3 hanyalah penuh ledakan yang supermassive yang tak berarti dengan arahan minimalis milik Patrick Hughes. Mereka masih ingin bersenang-senang seperti remaja meskipun usia mereka tidak muda lagi. Dengan menjajarkan mereka dengan aktor-aktris muda baru tetapi hal tersebut tidak bisa memperkuat The Expendables 3 menjadi tontonan yang memikat hingga akhir. Well, This is just The Wrinkled-Muscle’s Show.

Tuesday, August 12, 2014

xmen

MV5BMTA2MDU0MjUxNDNeQTJeQWpwZ15BbWU4MDEwOTAwNTAx._V1_SX214_AL_


The X-Men send Wolverine to the past in a desperate effort to change history and prevent an event that results in doom for both humans and mutants.




Director:


Bryan Singer



Writers:


Simon Kinberg (screenplay), Jane Goldman (story),2 more credits »